Referensiku

Just another WordPress.com weblog

Tahun Ini Tarif 11 Ruas Tol Akan Naik 

Kenaikan tarif tol pada 2007 sempat menuai reaksi keras publik. Pengguna jalan tol merasa tarif naik, tetapi sarana dan pelayanan tidak memadai. Bahkan, kemacetan di jalan tol kian menjadi-jadi. Apalagi kenaikan tarif tol tidak dilihat dari jarak tempuh, tetapi dipukul rata dari penggunaan jalan tol terjauh.

Pihak Jasa Marga berdalih selalu berupaya meningkatkan pelayanan. Soal kemacetan, dalih Jasa Marga, itu karena pertambahan volume kendaraan tidak sebanding dengan luas jalan. Pada 2009 ini Jasa Marga akan kembali menaikkan tarif tol. Ada 11 ruas yang tarifnya akan naik. Apa dasarnya dan berapa besar kenaikannya? Siapkah Jasa Marga menghadapi protes keras dari masyarakat? Frans S. Sunito mengungkapkannya kepada Yohana Novianti H. dari Warta Ekonomi, Rabu (28/1) lalu, di Kantor Pusat Jasa Marga. Frans juga memaparkan rencana-rencana Jasa Marga pada 2009. Petikannya:

Apakah Jasa Marga juga ikut terkena imbas krisis finansial global sekarang ini?

Kami tidak terlalu terpengaruh krisis. Justru dengan adanya krisis, pemerintah terus mendorong pertumbuhan infrastruktur, seperti pembangunan jalan, termasuk jalan tol, yang hanya sedikit memakai dana APBN. Semula kami khawatir kalau suku bunga akan melambung tinggi, tetapi ternyata SBI malah diturunkan. Makin rendah suku bunga, makin baik dampaknya bagi kami.

Bagaimana pembangunan jalan tol untuk tahun ini?

Pada 2008 kami mulai dengan pembebasan lahan untuk ruas tol baru. Untuk 2009, pembangunan fisik kami akan mulai setelah pembebasan lahan selesai. Di 2008, yang secara fisik sudah mulai, hanya Bogor Ring Road, yang diharapkan selesai pada pertengahan 2009. Untuk ruas jalan tol lain, kami akan mulai pembangunan fisiknya pada awal Februari 2009, di antaranya, Semarang-Ungaran (12 kilometer, fase pertama dari Semarang-Solo), dengan asumsi pembebasan lahan selesai Januari. Ruas Semarang-Solo ini terdiri dari Semarang-Ungaran, Ungaran-Bawen, Bawen-Salatiga, Salatiga-Solo, dengan panjang 70 kilometer.

Selain itu?

Bogor Ring Road seksi I diharapkan selesai pertengahan 2009, panjangnya sekitar 4 kilometer, sampai Kedunghalang, Bogor. Kami juga sedang persiapkan Gempol-Pasuruan sepanjang 40 kilometer. Ini terusan tol Surabaya-Gempol, dan kini dalam proses pembebasan lahan. Pembangunan fisik mungkin kami mulai pada pertengahan tahun, tergantung pembebasan lahan untuk bagian yang kena lumpur, yang akan direlokasi. Jadi, selain membangun relokasi, kami juga akan membangun perpanjangannya.

Kami juga sedang persiapkan JORR 2, dengan yang menjadi bagian Jasa Marga adalah ruas Serpong-Kunciran-Bandara sepanjang 26 kilometer. Sisanya, dikelola swasta. Untuk tahun ini kami harapkan selesai pembebasan tanahnya, dan akhir tahun mulai pembangunan fisiknya. Ruas tol ini bisa menjadi alternatif menuju bandara, selain lewat tol Prof. Sedyatmo. Menurut informasi, pemerintah akan mulai membebaskan tanahnya pada awal tahun ini. Kalau triwulan III-2009 selesai, kami bisa mulai pembangunan fisiknya, yang memakan waktu 12–15 bulan.

Ruas tol yang memberi kontribusi pendapatan paling besar bagi Jasa Marga?

Tol dalam kota dan JORR, Jakarta-Cikampek, atau semua jalan tol yang menusuk ke kota dan merupakan ring kota. Seluruh jalan tol di Jabotabek ini menyumbang sekitar 80% ke pendapatan Jasa Marga. Kami mengelola 13 ruas tol sepanjang sekitar 500 kilometer, mulai paling timur di Surabaya sampai paling barat di Medan. Konsep kami mengembangkan jalan tol baru yang merupakan kelanjutan dari jalan tol yang sudah existing.

Apakah tahun ini akan ada kenaikan tarif tol?

Sesuai UU, setiap dua tahun ada kenaikan tarif tol. Waktunya dihitung berdasarkan mulai beroperasinya ruas tersebut, sehingga kenaikan antarruas waktunya bisa berbeda. Tahun lalu, ada dua ruas tol yang tarifnya naik, yakni Prof. Sedyatmo dan Jakarta-Cikampek. Untuk tahun ini, ada 11 ruas yang akan naik. Berapa persen? Tergantung tingkat inflasi. Harus dipahami, kenaikan tarif tol ini tidak ada hubungannya dengan harga bahan pokok atau BBM, tetapi sudah direncanakan dalam 40 tahun masa konsesi. Investasi jalan tol itu triliunan rupiah, dan perusahaan harus mendapat pengembalian dari situ. Maka, kami hitung dalam 40 tahun ke depan, berapa penghasilan kami setiap tahun untuk mengembalikan investasi tadi. Dalam menghitung penghasilan, selain ada volume lalu lintas dan tarif—sesuai aturan, dalam rencana bisnis kami sudah build in kenaikan setiap dua tahun. Soal inflasi, kami buat berdasarkan asumsi. Kalau asumsi meleset, berarti kami rugi. Namun, kalau inflasi lebih rendah, kami akan menyesuaikan business plan. Kalau rugi, itu risiko bisnis.

Pembangunan tol mana saja yang investasinya besar?

Membangun jalan tol di lahan berbukit-bukit dan lembah akan mahal sekali. Misalnya, tol Cipularang. Bahkan tol Semarang-Ungaran lebih besar nilai investasinya dibanding Cipularang. Kalau konturnya berbukit, kami harus membangun jembatan. Apalagi kalau pakai terowongan, biayanya akan lebih mahal lagi. Namun, kalau konturnya datar, relatif lebih murah. Sebagai gambaran, untuk daerah yang berbukit bisa mencapai Rp100 miliar per kilometer, kalau datar bisa Rp40 miliar.

Bagaimana kinerja Jasa Marga tahun 2008 dan targetnya tahun ini?

Pendapatan 2008 Rp3,3 triliun (unaudited), laba bersih berdasarkan RKAP sekitar Rp450 miliar, tetapi diharapkan bisa di atas Rp500 miliar. Untuk 2009, target pendapatan Rp3,7 triliun, laba bersih jelas belum bisa diungkap. Namun, rasio-rasio tetap akan kami pertahankan, seperti laba usaha sekitar 40% dengan EBITDA 55%.

Soal kendala pembebasan lahan, menurut Anda, apa jalan keluarnya?

Hampir semua pembangunan ruas tol kesulitan dalam pembebasan lahan. Sebelumnya, saya mau tekankan bahwa pembebasan lahan untuk semua infrastruktur, entah itu jalan, banjir kanal, irigasi, atau kepentingan publik lainnya, adalah tugas dan wewenang pemerintah. Namun, karena keterbatasan dana, pemerintah memasukkan biaya pembebasan tanah dalam biaya investasi investor. Maka, setelah membebaskan tanah, pemerintah minta ganti uangnya ke investor. Ini sudah masuk dalam rencana investasi kami. Jadi, sejak awal kami sudah sepakati harga tanahnya. Setelah dibebaskan, kami ganti ke pemerintah sesuai kesepakatan. Kalau ternyata biaya pembebasannya lebih mahal, itu tanggungan pemerintah. Seharusnya pemerintah membuat peraturan, kalau membebaskan tanah untuk kepentingan publik, tidak dengan asas negosiasi. Di negara mana pun, kalau pemerintah membutuhkan lahan untuk kepentingan publik, pemerintah berhak mengambil, tetapi pemiliknya jangan dizalimi. Artinya, dengan memberi harga yang layak.

Jasa Marga dan Bank Mandiri meluncurkan pembayaran tol secara elektronik. Apa pengaruhnya bagi Jasa Marga?

Januari 2009 kami memperkenalkan e-toll card, yang memungkinkan konsumen membayar dengan kartu prabayar, sehingga lebih mudah. Untuk sementara, e-toll card ini hanya ada di beberapa gardu tol, belum semua. Kartunya bisa dibeli di mana-mana. Lalu, kami juga akan membuat sebanyak mungkin sistem terbuka. Contohnya, nanti pengguna jalan tol dari Bogor ke Jakarta, yang selama ini membayarnya di gerbang Taman Mini, bisa membayar di gerbang Cimanggis. Begitu juga di gerbang tol Cikampek dan Pondok Gede Timur, yang macetnya luar biasa, kelak akan kami pindah ke Cibitung. Ini untuk mengurangi transaksi yang tidak perlu. Jadi, transaksi terjadi di luar kota atau daerah yang relatif tidak ramai. Memang, dengan sistem ini, yang akan diuntungkan adalah pengguna tol jarak jauh. Kalau pengguna jarak dekat mungkin akan rugi, karena harus membayar dengan jumlah yang sama. Pemindahan gerbang tahun ini kami lakukan di Taman Mini dan Pondok Gede Timur.

Jalan tol artinya jalan bebas hambatan, tetapi sering macet. Komentar Anda?

Jasa Marga selalu berusaha memperbaiki pelayanan. Kami sadar pemakai jalan ingin transaksinya mudah dan jelas. Maka, pelayanan kami fokus pada dua hal. Pertama, dengan memberi informasi yang jelas. Kedua, memberi kemudahan. Untuk tahun ini dan ke depan, kami mulai giatkan pemberian informasi melalui VMS (Variable Message Sign) atau informasi yang real-time. Misalnya, ruas Cawang-Tebet padat merayap dengan kecepatan 0–20 kilometer per jam, dan pada jam berapa. Ini yang bisa kami lakukan. Kalau menghindari kemacetan berkaitan dengan volume kendaraan, kami tidak bisa berbuat banyak. Industri otomotif kita tumbuh gila-gilaan, sementara pertambahan luas jalan tidak sebanding. Kami tentu tidak bisa berbuat apa-apa jika traffic yang masuk besar.

Anda melakukan benchmark dengan jalan tol di luar negeri?

Ini ironis. Kami mencontoh Malaysia, padahal dulu mereka belajar dari kita. Bahkan, dulu ada satu orang Malaysia magang di Jasa Marga. Setelah kembali ke Malaysia, dia mulai membangun jalan tol di sana. Kini mereka punya jalan tol sepanjang 1.500 kilometer. Sekarang, secara berkala kami mengirim orang-orang terbaik kami ke Malaysia.

Selain Malaysia, Cina juga fenomenal. Mereka mulai membangun jalan tol pertengahan 1990, tetapi kini panjang jalan tolnya sudah 40.000 kilometer. Setiap tahun mereka membangun jalan tol sepanjang 3.000 kilometer. Filosofi mereka, yakni ada atau tidak ada traffic, tetap bangun jalan tol. Rugi tidak apa, karena pemerintah siap menanggung. Cina punya filosofi, kalau mau kaya, bangunlah jalan. Sebab, jalan akan membawa kemakmuran. Mereka percaya membangun jalan itu tidak akan pernah rugi. Memang mereka punya uang, sementara kita untuk buat jalan tol saja tidak ada biayanya di APBN, sehingga terpaksa diserahkan ke swasta. Sementara swasta baru mau membangun kalau ada traffic.

Frans Satyaki Sunito adalah Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero)

( redaksi@wartaekonomi.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Tulisan ini dikutip dari majalah Warta Ekonomi edisi 03/XXI/2009, halaman 14-17. Judul asli tulisan ini adalah “Tahun Ini Tarif 11 Ruas Tol akan Naik”.

August 4, 2009 - Posted by | Berita Toll/Infrastructure

1 Comment »

  1. Kali ini konsumen kembali menjadi korban, tarif di berbagai ruas tol naik cukup signifikan. Menurut hemat saya, hal ini kurang bijak. Kalaupun mau menaikkan tariff, sudah selayaknya didahului oleh perbaikan fasilitas. Menurut berita yang saya dengar, masih banyak kekurangan di sejumlah ruas tol. Misalnya saja jalan yang berlubang dan sebagainya. Sudah saatnya hak konsumen dihargai, jangan hanya memihak pada keuntungan pengusaha semata!!
    Pasang Iklan Gratis

    Comment by Pasang Iklan Gratis | September 27, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s